GDP Adalah Apa ?

Pada tahun 2020 ini, Indonesia dan banyak negara di dunia mengalami resesi. Resesi adalah kondisi dimana pertumbuhan sebuah negara dalam 2 kuartal berturut – turut adalah negatif. Jadi kalau hanya 1 kuartal, itu bukan resesi ya, hanya ‘kepleset’.

Lalu apa sih GDP itu?

Gross Domestic Product atau GDP merupakan pendapatan yang didapatkan baik dari barang ataupun jasa yang didapatkan dari masyarakat dalam negeri maupun luar negeri yang tinggal di satu negara. Misalkan ada orang asing yang bekerja, beli kopi di coffe shop, belanja di supermarket sampai sewa tempat tinggal di Indonesia, ini merupakan salah satu sumber pendapatan negara. GDP = C+I+G+(X-m)

Mari kita ilustrasikan dibawah :

Coba bayangkan :

  • Berapa banyak penjualan cangkir kopi di semua coffe shop di seluruh Indonesia?
  • Berapa banyak penjualan mobil se Indonesia?
  • Seberapa menurunnya penjualan baju di Departement Store?

Nah semua ini dijumlahkan dan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka kamu akan mendapatkan pertumbuhan GDP. C

Consumption merupakan kegiatan orang mengeluarkan uang untuk kegiatan konsumsi. Seperti seberapa banyak kamu belanja dalam setahun? Keluarga kamu, teman – teman kamu? Contohnya :

  • Belanja di supermarket
  • Ngopi di coffe shop
  • Belanja E-Commerce
  • Langganan streaming online
  • Liburan di dalam negeri
  • dll.

Artinya makin banyak yang belanja, maka makin tinggi tingkat consumption ( C ) = makin tinggi GDP. I

Investment merupakan kegiatan investasi yang ada di satu negara tersebut seperti membangun pabrik, membuka bisnis, dll. Apakah kamu pengusaha? Banyak temen yang buka bisnis? Atau mungkin ada kenalan dari luar negeri yang membuka cabangnya di Indonesia?

Nah semakin banyak Investasi ( I ) dalam bisnis otomatis akan meningkatkan GDP dan secara ga langsung juga akan meningkatkan Konsumsi ( C ) masyarakat.

Investment ( I ) meningkat, Maka GDP akan meningkat. G

Goverment Spending merupakan kegiatan belanja pemerintah. Selain kamu belanja ( C ) Pemerintah pun juga belanja ( G ) lho. Misalnya :

  • Beli komputer untuk kantor pemerintahan
  • Service mobil operasional di bengkel
  • Memberikan subsidi benih bagi para petani
  • Hingga membeli besi, baja, semen untuk membangun jalan tol.

Sama seperti point ( C ), semakin besar ( G ) maka akan semakin meningkatkan GDP. X – m

Export – Import

Merupakan kegiatan export dan import di dalam sebuah negara. Yuk kita lihat lagi point C, I, dan G tadi :

  • Barang yang kita beli kebanyakan di import atau produksi lokal?
  • Barang yang dijual pengusaha (dan perusahaan) lebih banyak ke pasar lokal atau eksport?
  • Bahan baku pada proyek pemerintahan lebih banyak dari lokal atau import?

X > M bisa meningkatkan GDP dan mata uang akan cenderung menguat. Namun jika X< M ini menurunkan GDP dan mata uang akan cenderung melemah.

Jadi kesimpulan sederhananya adalah :

  • Makin tinggi tingkat konsumsi ( C ) masyarakat maka makin tinggi GDP. Jika makin rendah tingkat konsumsi masyarakat maka makin menurun GDP.
  • Makin tinggi tingkat Investasi sektor riil ( I ) maka semakin tinggi GDP. Makin rendah tingkat investasinya maka makin turun GDP.
  • Makin tinggi belanja (proyek) Pemerintah ( G ) maka makin tinggi GDP, jika makin rendah tingkat belanja pemerintah maka makin turun GDP
  • Jika Indonesia Net Eksport, maka makin tinggi GDP, Jika Indonesia Net Import, maka makin rendah GDP.CIG vs X-m

Ini bagaikan pedang bermata dua.

Kalau kamu rajin minum susu, tapi bahan baku susu itu 80% impor, maka kamu meningkatkan ( C ) dan ( m ). GDP meningkat namun rupiah tertekan.

Kalau kamu pengusaha, produk kamu banyak dibeli orang dan diekspor ke luar negeri, maka ( C ) dan ( X ) meningkat. GDP naik dan mata uang menguat.

Kalau kamu beli baju batik import yang harganya sangat murah, kamu meningkatkan ( C ) dan ( m ) sekaligus ‘mematikan’ industri batik nasional ( I ).

Gimana jadi makin paham mengenai GDP kan?

Apa yang bisa kamu lakukan agar ekonomi Indonesia serta rupiah menguat dari waktu ke waktu?